UGM Round Table Meeting Seri Kebudayaan : Eksistensi Lenong di Tengah Modernisasi Ibukota

Bertempat di Kampus UGM Jakarta, pada tanggal 27 Mei 2015, Badan Penerbit dan Publikasi (BPP) UGM menyelenggarakan UGM Round Table Meeting Seri Kebudayaan dengan tema “Eksistensi Lenong di Tengah Mordernisasi Ibukota”. Dalam acara tersebut BPP mengundang beberapa narasumber untuk berdiskusi terkait penulisan buku tentang Lenong. Acara yang dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri oleh sejumlah narasumber, yang terbagi menjadi akademisi, pelaku budaya, dan pemerintah. Ninuk Kleden Probonegoro hadir sebagai akademisi, tepatnya peneliti dari Lipi, yang telah berkiprah selama puluhan tahun untuk meneliti Lenong. Hadir pula para pelaku budaya yang selama ini aktif melestarikan Lenong, yaitu Yahya Andi Saputra, I Ghoees Magrib (dari Yayasan Oplet Robet), Rudi M. Noor, Bachtiar (pimpinan Sanggar Si Pitung Rawa Belong), Jali Jalut (aktivis senior Lenong denes), dan Bang Burhan. Sementara itu, Syaiful Amri berperan sebagai perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Budaya DKI Jakarta sekaligus sebagai pendiri Yayasan Komedi Betawi.

Lenong2

Pertemuan tersebut dikemas dalam bentuk tanya jawab yang dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama membahas sejarah Lenong, yang dimoderatori oleh Dr. Mutiah Amini, sekretaris BPP UGM. Sesi kedua membahas potret Lenong masa kini, dimoderatori oleh Prof. Tata Wijayanta, Kabag Publikasi dan Jurnal BPP UGM. Kemudian sesi terakhir membahas pelestarian Lenong di masa depan, dimoderatori oleh Ir. Yahya Agung Kuntadi, M.M., Kepala Kantor UGM Jakarta. Luaran dari pertemuan ini adalah sebuah buku tentang Lenong yang nantinya ditulis oleh penulis dari BPP UGM, Nuzula Ichwanun Nabila dan Frida Kurniawati. Harapannya, buku ini menjadi awal dari usaha berkelanjutan untuk mempublikasikan tentang Lenong dan melestarikannya di masa sekarang dan masa depan, yang diprakarsai oleh UGM.