Indonesia secara regional termasuk ke dalam kawasan Asia Tenggara bersama sepuluh negara lain. Berada di kawasan yang relatif berdekatan menjadikan negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki bercorak kebudayaan dan kehidupan sosial masyarakat yang memiliki banyak kesamaan. Sebagai negara yang bertetangga penting untuk menjaga hubungan baik tidak hanya di bidang politik, tetapi juga di berbagai aspek kehidupan.
The 2nd International Conference of South East Asia Studies (ICSEAS) 2017 digelar pada Rabu dan Kamis, 27- 28 September 2017. ICSEAS merupakan satu dari rangkaian konferensi internasional tahunan dalam agenda UGM Annual Scientific Conference (UASC) yang diselenggarakan oleh Badan Penerbit dan Publikasi Universitas Gadjah Mada (BPP UGM). Konferensi internasional klaster sosial ini mengangkat topik “Explore the borders of South East Asia as philosophical, social, cultural, geographical, political, institutional, and pshycological”. Topik ini dianggap sesuai dengan kondisi dalam negeri beberapa negara Asia Tenggara yang sedang mengalami konflik sosial yang sama. Seperti yang disampaikan oleh chairman ICSEAS 2017, Dr. Wening Udasmoro dalam pidato sambutannya, “saat ini kawasan Asia Tenggara sedang menghadapi berbagai macam konflik sosial sebagai akibat dari pandangan masyarakatnya yang masih memandang batasan-batasan ras, suku, gender, dan agama. Beberapa kasus tersebut di antaranya ialah kasus Rohingnya di Myanmar, kasus pilkada gubernur Jakarta di Indonesia, dan kasus Mindanau di Filipina Selatan.” ujar beliau. Konferensi ini mengajak peneliti di kawasan Asia Tenggara untuk mulai menghilangkan batasan-batasan, tidak hanya batasan suku, agama, dan ras tetapi juga sosial, budaya, geografi, politik, institutional, dan psikologi.
Diselenggarakan di Hotel Eastparc, Yogyakarta, konferensi ini dihadiri 176 peserta dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, India, Cina, dan Polandia. Konferensi dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni UGM, Dr. Paripurna, S.H., M.Hum., LL.M dengan melakukan pemukulan gong yang disaksikan oleh BPP dan Publikasi UGM, Steering committee, dan para speakers ICSEAS 2017. Dalam sambutannya, Dr. Paripurna mengatakan bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara harus mengesampingkan perbedaan untuk dapat tinggal bersama dengan berdampingan sebagai negara tetangga dalam perbedaan budaya, agama, dan etnis. Usai dibuka secara resmi acara dilanjutkan dengan sesi diskusi panel dengan menghadirkan Prof. Krishna Sen dari University of Western Australia yang membawakan topik “Media and message in the making of Reformasi’s Indonesia”. Selain itu dari UGM Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A., seorang ahli antroplogi membawakan topik “Vanishing frontiers: a Javanese plantation emplacement, 1870s – 2000s”. Konferensi ini dibagi menjadi tiga topik simposia, yaitu Identity and Popular Culture, The Dynamics of Southeast Asian Studies, dan Communication in Digital Society.
BPP UGM sebagai badan yang secara khusus menangani penguatan publikasi ilmiah sivitas akademik UGM, berkomitmen untuk memublikasikan seluruh makalah yang dipresentasikan pada konferensi ini di jurnal yang diindeks oleh Scopus atau DOAJ/EBSCO di antaranya, Philippine Journal of Science, Knowledge E, Humaniora, Jurnal Kawistara, Mimbar Hukum, Al Jamiah, Indonesia Journal of Islam and Muslim Societies, IKAT – The Indonesian Journal of Southeast Asian Studies, ASEAN Journal on Science and Technology for Development (AJSTD), setelah melalui tahap seleksi.(BPP UGM- Miftha/Kiki)